Menjadi Logis

Dua bulan belakangan, aku menjadi logis. Entah karena apa. Tapi kurasa, jatuh terpuruk adalah jalan untuk kembali bangkit. Kehilangan tersepi adalah celah untuk memperbaiki diri. Aku seperti melihat diri sendiri pada beberapa tahun yang lalu, ketika kesibukan menelan bulat-bulat sunyi yang ada. Dan walau sepi, ternyata aku bahagia.

Yaaa, bahagia kadang bisa semudah itu. Hanya dengan meninggalkan kisah ramai di luaran sana, lalu berfokus pada kemaslahatan diri sendiri. Semua ini bukan tentang melarikan diri dari dunia, tapi menumpuk prioritas untuk hal-hal yang lebih penting. Bukan menyendiri dan terpuruk pada jalanan berlumpur tanpa ada satu orang pun yang tau, melainkan menyimpan semua sendirian saja untuk menjadi kuat dengan usaha seorang diri.

Toh, bergabung dengan keramaian dunia belum tentu bisa menentramkan jiwa. Toh, menceritakan luka-luka belum tentu mampu menyembuhkannya. Malah kadang, akan ada luka baru jika orang lain hanya bisa mendengar dan mencibir tanpa mampu memahami. Toh, bersandiwara di depan banyak pasang mata malah akan memupuk kemunafikan yang dusta.

Menjadi logis amat sangat menyenangkan. Menjadi logis akan membuat semua waktu rasanya tidak ingin dibuang sia-sia. Apalagi hanya untuk memikirkan orang-orang atau sesuatu yang tidak jelas tujuan dan manfaatnya. Begitulah. Ternyata untuk menjadi logis, kita hanya butuh sebuah keikhlasan yang sudah merasuk dalam-dalam.

Keikhlasan adalah kunci

dua dari tujuh

Sungguh angka yang kecil. Dua dari tujuh. Dua per tujuh. Ya, sekecil itulah peluang yang ada di hadapan mata. Sekecil itulah kemungkinan yang tersamar di depan sana. Hei, bagaimana kalau kalimatnya diganti? Bagaimana kalau “dalam tujuh ada dua”. Terdengar lebih baik, bukan? 🙂

para pecinta puisi

Kau mencintai puisi, aku juga

Kau mencintai gunung, aku juga

Kau suka pantai, aku juga

Kau suka sendirian, aku juga

Kau merindukan pujangga, aku juga

Kau merindukan seseorang, aku juga

Banyak sama tak banyak bicara

Pernah berjumpa tapi suka terlupa

Banyak kebetulan tak banyak harapan

Kita…
Lalu kemarin, aku diiming pantai oleh rekanmu

Tapi hari ini, kau malah bersenda gurau di pinggir kali itu

Mungkin kita memang bukan

Atau belum?

Atau akan?

Atau tidak pernah?

Atau… segala kau bukan segalaku
Entahlah

Setidaknya kita sama

Tertakdir atau tidak, bukan urusanku

Toh kau adalah aku dan aku adalah kau

Toh kau suka puisi dan aku juga

Toh kau suka pantai dan aku juga

Toh kau suka hutan dan aku juga

Toh kau sendirian

Yang tak mampu pula kuusik
Tapi katamu, kau ingin menjadi hujan?

Yang turun dalam genggaman kemarau

Mungkin kau harus mendengar laguku

Supaya kau paham bahwa aku adalah kau juga

Bahwa ada orang yang menjadi bagian dari hidupmu tanpa kau sadari

Bahwa ada aku

Kembaran fana-mu

tidak harus bertemu

Aku percaya untuk bisa mendapat pelajaran hidup dari seseorang, kita tidak harus bertemu secara langsung dengan orang tersebut. Seperti kita yang tidak pernah bertemu Baginda Rasulullah, namun seluruh hal yang beliau ajarkan menjadi sunnah untuk kehidupan kita. Ya, aku percaya itu. Bahwa untuk mengenal seseorang, kita tidak perlu mengenalnya secara langsung. Tidak perlu mampu meraihnya dalam aspek fisik. Cukup hanya dengan satu cara: membaca. Mungkin, begitu pula dalam urusan cinta? Seperti kita yang bisa cinta pada Rasulullah, walaupun kita tidak berjumpa dengan beliau. Namun kita bisa cinta karena kita membaca sunnah-sunnahnya.

Bukan hal mustahil jika yang lain bisa jatuh cinta karena pandangan, namun aku bisa jatuh cinta karena tulisan. Hanya tulisan –

Puisi di pantai

Yang menyukai puisi, tentu akan memahami bagaimana perasaan mampu terhujam hanya karena rentetan kata-kata. Yang membaca puisi, tentu akan memahami bagaimana syahdunya bergelayutan di atas hammock sambil membaca puisi.

Merindukan pantai yang sunyi bersama buku puisi (yang sekarang dipinjam teman tapi tidak kunjung dikembalikan).

Tentang Kepanitiaan

Pada sebuah waktu, tibalah saya diajak salah satu teman kuliah untuk ikut di salah satu acara outdoor yang benar-benar baru: caving alias susur gua. Saya yang emang lagi kepengen cobain hal-hal baru di dunia outdoor, tertariklah. Akhirnya saya inisiatif tanya-tanya ke CP. Yang namanya ada acara ya, pasti CP mengunggul-unggulkan acaranya biar pesertanya banyak. Nggak munafik, lah. Selama saya punya acara dan saya masuk di dalamnya sebagai panitia, saya juga pasti melakukan itu. Tapi, entah kenapa saya merasa nggak sreg. Walaupun masnya menjelaskan ini itu, saya tetep nggak sreg.

Lalu, ada salah satu temen SMP (yang saya kabari juga soal acara itu dan tertarik) yang COD-an langsung sama mas CP dan kroni-kroninya. Dan dari transfer wacana, saya semakin yakin kalau masih banyak kekurangan yang dimiliki oleh panitia. Dari perihal registrasi sampai teknisan. Dan karena kegiatan caving itu lebih berisiko daripada naik gunung, sepertinya masih banyak hal-hal yang kurang diperhatikan oleh panitia. Kaya misalnya perlengkapan peserta. Okelah kalau cuma perlengkapan camping, karena kalaupun peserta ngga punya, dia bisa sewa atau pinjem. Dan di Malang sendiri sudah banyak tempat persewaan alat-alat camping dengan harga yang relatif murah. Tapi perlengkapan lain seperti helm, sepatu boot, atau apalah itu, peserta mau cari dimana? Sedangkan ketika panitia ditanyain soal perlengkapan itu, mereka malah jawab “kurang tahu ya mbak. tapi itu perlengkapan wajib”

Hmmm… oke. Sebelumnya, ketika banyak hal perkara registrasi, saya fine-fine aja. Saya nggak masalah dengan registrasi yang ribet, karena saya sudah terbiasa mengurus KHS, KRS, simaksi, atau berkas-berkas formal lainnya. Bahkan saya udah lebih dulu punya surat kesehatan (salah satu lampiran sebagai persyaratan) daripada temen-temen saya yang lain. Bukti kalau saya lebih niat ikut acara ini daripada mereka (haha). Tapi, setelah mendengar jawaban “kurang tau ya mbak” itu tadi, saya langsung kehilangan effort saya buat ikut acara itu. Karena saya merasa mereka kurang memperhatikan permasalahan yang sebenarnya sangat mendasar: safety.

Oi, kami ini pemula. Kami ini bahkan sudah bertanya banyak kali tentang “bolehkah pemula ikut acara ini?” dan kalian selalu menjawab “justru itu yang kami cari. sasaran kami memang pemula”. Ya kalo sasaran kalian emang pemula, ya tolong dengan sangat: perhatikan kami. Bimbing kami. Bantu kami. Setidaknya kasih kami saran kami harus cari perlengkapan caving di mana. Kalau kalian saja yang sudah expert di bidang ini “kurang tau”, apalagi kami yang manusia awam ini. Jangan pupuskan harapan calon peserta hanya karena kalian kurang mempersiapkan konsep acara dan teknisan kalian di lapangan. Kesian, lho. Kesian calon pesertanya, kebingungan. Kesian kalian juga. Kalau peserta tidak membawa perlengkapan, kalian juga kan yang harus mempertanggungjawabkan ke-safety-an mereka. Kalau mereka (amit-amit) ada apa-apa gimana?

Para manusia dewasa, mendewasalah sesuai kadar usia kalian. Jangan menganggap mudah kehidupan yang sulit ini. Mungkin kalian yang membaca ini akan berpikir bahwa saya terlalu berlebihan karena pada akhirnya saya tidak ikut sebuah acara hanya karena satu kalimat dari panitia. Tapi, saya terbiasa berpikir setsetwet -yang jika ada keraguan di dalamnya, maka saya tidak akan ambil pusing untuk memikirkannya lebih dalam. Saya akan cepat memutuskan untuk melewatkan saja hal-hal yang meragukan itu daripada menghabiskan waktu untuk memikirkannya (yang belum jelas jalan keluarnya). Karena sejak kecil, ibu saya pun mendidik saya seperti itu. Maju, maju. Enggak, enggak. Jangan maju yang enggak-enggak. Kalau kalian meragukan, maka saya lebih baik enggak. Sekian, terima kasih. Maaf belum bisa berpartisipasi.

Hidup akan terus bergulir

Begitu banyak lubang di jalanan, ranting patah, daun gugur, dan air keruh. Semua itu hanya bagian dari alam. Bagian dari bongkahan hidup. Musim akan berganti. Malam menjadi siang. Panas menjelma dingin. Hujan berganti badai. Dan pelangi adalah hadiah kecil yang Tuhan berikan untuk sebuah senyuman.

Perubahan, ketetapan, atau kestagnanan alur hidup adalah hal wajar. Hitam atau putih bukanlah soal. Kanan dan kiri juga bukan kesalahan –hanya perbedaan dari cara memandang. Saat atas dan bawah menjadi musuh. Atau ketika hutan dan laut bersatu padu. Hidup harus terus berjalan.

Waktu tidak pernah menunggu. Kaki-kaki yang lemah akan tertinggal. Pemikiran-pemikiran yang tak diucap akan terkubur. Hati-hati yang berhenti akan mati. Tapi, hidup harus terus berjalan. Musim harus terus berganti. Air harus terus mengalir.

Sedih atau bahagianya dirimu, hidupmu akan terus bergulir. Diam atau bergeraknya dirimu, hidupmu akan terus bergulir. Hidup atau matinya hatimu, hidup akan terus bergulir. Maka, untuk menjadi stagnan atau dinamis dengan jalannya waktu, itu pilihanmu. Tapi, hidup akan terus bergulir.

Hingga suatu hari nanti akan kau dapati bahwa kau tersengal-sengal karena mengejar waktu yang terus menerus merenggut kesempatanmu untuk meratap, napasmu akan terburu karena mendapati langkahmu semakin jauh dari yang seharusnya, barulah kau akan menyadari bahwa kestagnanan –yang kau pilih itu hanyalah kesia-siaan. Dan penyesalan atas pengharapan adalah keniscayaan.

Kadang manusia memang butuh waktu yang sangat panjang untuk menyadari bahwa apa yang mereka lakukan hanyalah sia-sia. Mungkin aku termasuk di dalamnya.

-elsa f. bena

karena kita penuh dengan distorsi